SULAWESI SELATAN — Jakarta — Rampungnya laporan keuangan konsolidasi BUMN 2025 menjadi momentum bagi Danantara untuk menggenjot transformasi bisnis yang lebih fundamental. Esther menilai, langkah perampingan organisasi dan efisiensi biaya operasional yang masif telah membuahkan hasil positif.
"Kita apresiasi jika banyak BUMN meningkatkan keuntungannya dan berhasil pulih dari kerugian berkat transformasi, perampingan serta pemangkasan lapisan manajemen, dan efisiensi biaya operasional secara besar-besaran," kata Esther saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Meski laba naik, Esther yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro menekankan perlunya parameter lain. Menurutnya, daya saing dan produktivitas yang berkelanjutan justru menjadi indikator yang lebih krusial.
"Selain pertumbuhan laba, indikator keberhasilan lain bisa dilihat dari kemampuan perusahaan itu memperkuat daya saing dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan," ujarnya.
Ia menambahkan, keberlanjutan tren positif sangat bergantung pada iklim investasi yang sehat. Pemerintah diminta memastikan regulasi yang kondusif agar transformasi BUMN berdampak jangka panjang bagi perekonomian nasional. "Kepastian hukum diperlukan agar investor bisa berinvestasi dengan nyaman," tegas alumnus Maastricht University ini.
Keberhasilan Krakatau Steel dan Kimia Farma keluar dari zona merah disebut sebagai bukti nyata efektivitas restrukturisasi. Esther menilai, suntikan dana dari Danantara Asset Management (DAM) mulai menunjukkan hasil yang konkret.
"Mengingat suntikan dana restrukturisasi yang diberikan oleh Danantara Asset Management sukses membuat BUMN seperti Krakatau Steel dan Kimia Farma berbalik dari posisi rugi menjadi mencetak laba," katanya.
Di sisi lain, Esther mendukung kebijakan pengelolaan dividen BUMN yang kini dialihkan melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Namun, ia mengingatkan agar dana tersebut difokuskan untuk investasi jangka panjang yang berdampak luas bagi masyarakat.
"Memang dividen BUMN kini mulai dialihkan pengelolaannya melalui BPI Danantara seharusnya diinvestasikan kembali ke proyek strategis yang berdampak pada masyarakat luas dan jangka panjang," ujarnya.
Prioritas investasi, menurut Esther, perlu diarahkan ke sektor transisi energi hijau dan pembangunan infrastruktur dasar. Langkah ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, mengingat Indonesia merupakan net importir minyak. "Investasi perlu diarahkan pada upaya memperkuat ekspor melalui pengembangan hilirisasi industri agar komoditas dapat diolah menjadi produk bernilai tambah," tutupnya.
Sementara itu, Danantara menyampaikan bahwa laporan keuangan konsolidasi masih dalam tahap audit dan akan dipublikasikan setelah seluruh proses rampung.