MAKASSAR — Rangkaian program Jelajah Sampah resmi menyentuh Kecamatan Ujung Pandang, kawasan padat aktivitas yang menjadi pusat bisnis dan wisata Kota Makassar. Kegiatan yang digelar di Anjungan Pantai Losari ini tidak sekadar seremonial, melainkan bagian dari gerakan edukasi masif untuk mengubah perilaku warga dalam mengelola sampah rumah tangga.
Melinda Aksa Munafri menegaskan bahwa pemilahan sampah dari sumber merupakan langkah yang tidak bisa ditunda lagi. Ia mengingatkan bahwa arah kebijakan nasional saat ini mendorong agar hanya sampah residu yang dibuang ke TPA.
“Kalau kita ingin TPA bertahan lebih lama dan lingkungan tetap sehat, maka pekerjaan itu harus dimulai dari rumah. Sampah organik diolah, sampah yang masih bernilai dipilah, dan hanya residu yang dibawa ke TPA. Ini adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya di hadapan peserta.
Di sisi hulu, pembenahan TPA Tamangapa disebut menunjukkan progres signifikan. Area utama yang sebelumnya menjadi sumber bau kini sebagian besar telah ditutup tanah, dan pengelolaan mulai menerapkan sistem zonasi antara area aktif dan tidak aktif.
Namun, Melinda menekankan bahwa perbaikan infrastruktur tidak akan berarti tanpa perubahan perilaku masyarakat. Ia menaruh harapan besar pada perangkat wilayah hingga kader TP PKK sebagai ujung tombak edukasi.
“Jangan pernah lelah mengingatkan warga. Edukasi memang membutuhkan proses, tetapi perubahan selalu dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” kata Melinda.
Kecamatan Ujung Pandang memiliki tantangan yang berbeda dari kecamatan lain. Sebagai pusat aktivitas kota, kawasan ini dihuni sekitar seratus pelaku usaha hotel, restoran, dan kafe (Horeka) yang setiap hari menghasilkan volume sampah organik cukup besar.
Ditambah keterbatasan lahan untuk pengolahan mandiri, kolaborasi lintas sektor menjadi keniscayaan. Melinda menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kota, Dinas Lingkungan Hidup, dan pemerintah kecamatan untuk mencari solusi yang sesuai karakter wilayah.
“Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda, sehingga pendekatannya juga harus disesuaikan. Yang terpenting, semangat untuk berubah tidak boleh berhenti,” ungkapnya.
Kegiatan tidak berhenti pada ajakan simbolis. Peserta mengikuti kelas edukasi pengolahan sampah organik secara mandiri, mulai dari pembuatan biopori, eco-enzyme, budidaya maggot, hingga pemanfaatan komposter. Materi ini diharapkan menjadi bekal praktis bagi warga untuk diterapkan di lingkungan masing-masing.
Sebelum kelas dimulai, aksi plogging di kawasan Pantai Losari berhasil mengumpulkan 49 kilogram sampah. Rinciannya, 10 kilogram sampah organik, 25 kilogram sampah anorganik, dan 14 kilogram sampah residu.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmi Budiman, menegaskan pemerintah mulai memperkuat implementasi kebijakan dengan menggeser pendekatan dari tahap pendampingan menuju sistem pengawasan yang lebih tegas. Langkah ini ditujukan untuk membangun kedisiplinan masyarakat.
Menurutnya, pengelolaan sampah bukan sekadar menghindari sanksi, melainkan membangun budaya baru yang peduli lingkungan. DLH berkomitmen mendorong lahirnya perilaku ramah lingkungan sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan perubahan iklim.
Pada kesempatan yang sama, DLH Kota Makassar menyerahkan satu unit motor Viar kepada UPT Pantai Losari Kecamatan Ujung Pandang untuk mendukung operasional pengangkutan sampah di kawasan tersebut.