SULAWESI SELATAN — Dalam sebuah diskusi baru-baru ini, Fearne menegaskan bahwa Laut Tengah harus dipandang sebagai jembatan yang menghubungkan dua benua, bukan sebagai tembok pemisah. Ia menyerukan respons Eropa yang lebih kuat dan lebih terkoordinasi untuk menghadapi berbagai krisis yang berkembang di kawasan tersebut. "Laut Tengah adalah jembatan, bukan perbatasan," ujarnya, menekankan perlunya perubahan paradigma dalam kebijakan luar negeri dan keamanan blok tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Fearne menyatakan dukungan penuh Malta terhadap solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina. Ia juga menegaskan komitmen Malta untuk terus mendukung Ukraina di tengah agresi Rusia yang masih berlangsung. Menurut Fearne, posisi ini merupakan bagian dari upaya Malta untuk mendorong stabilitas dan menegakkan hukum internasional di kawasan yang semakin rapuh.
Lebih lanjut, Fearne menyoroti upaya Malta dalam mendorong faksi-faksi yang berseteru di Libya untuk kembali duduk bersama. Malta secara aktif mendukung proses menuju pemilu dan reunifikasi negara Afrika Utara tersebut. Namun, ia mengakui bahwa jalan menuju rekonsiliasi masih panjang dan penuh hambatan, mengingat kompleksitas kepentingan aktor domestik dan internasional di Libya.
Di tengah berbagai inisiatif diplomatik tersebut, Fearne melontarkan peringatan keras. Ia menilai dunia saat ini telah menjadi tempat yang jauh lebih berbahaya dibandingkan beberapa dekade terakhir. Ia juga menyoroti fakta bahwa aturan hukum internasional tidak selalu berlaku efektif dalam praktiknya, sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi negara-negara kecil seperti Malta.
Pernyataan Fearne ini muncul di saat negara-negara Eropa selatan, termasuk Malta dan Italia, kerap menjadi titik masuk pertama bagi ribuan pengungsi dan migran yang melintasi Laut Tengah. Data dari badan-badan internasional menunjukkan bahwa jumlah kedatangan migran melalui jalur laut tengah meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ini menjadikan isu migrasi sebagai agenda politik domestik yang sensitif di banyak negara Eropa, sekaligus menjadi ujian bagi solidaritas antarnegara anggota Uni Eropa.
Seruan untuk melihat Laut Tengah sebagai jembatan, bukan perbatasan, merefleksikan kebutuhan mendesak akan pendekatan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada keamanan perbatasan, tetapi juga pada akar masalah migrasi seperti kemiskinan, konflik, dan perubahan iklim di negara asal. Malta, dengan posisi geografisnya yang strategis, menempatkan dirinya sebagai jembatan diplomatik antara Eropa dan Afrika, sebuah peran yang ingin terus diperkuatnya di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks.