Petani Luwu Alami Kekeringan, Babinsa Gali Sumur 15 Meter untuk Selamatkan 39,8 Hektare Sawah dari Gagal Panen

Penulis: Ujang Rahmat  •  Kamis, 03 September 2026 | 20:14:01 WIB
Babinsa dan penyuluh pertanian mendampingi penggalian sumur sedalam 15 meter untuk mengairi 39,8 hektare sawah di Desa Wiwitan, Luwu.

LUWU — Babinsa Desa Wiwitan, Peltu Suratmin, bersama Pimpinan BPP Kecamatan Lamasi, Sukimin, turun langsung mendampingi proses penggalian sumur di tengah ancaman kekeringan yang melanda lahan pertanian warga. Inisiatif ini diharapkan menjadi solusi jangka pendek agar produktivitas padi tidak menurun drastis akibat minimnya pasokan air irigasi.

Realisasi Sumur untuk Menjaga Produktivitas 20 Petani

Sumur yang dibangun secara manual ini menyasar areal persawahan yang selama ini bergantung pada aliran air permukaan. Ketika musim kemarau tiba, saluran irigasi mulai mengering dan petani kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk tanaman padinya.

Keberadaan sumber air baru ini memungkinkan para petani untuk tetap melakukan penanaman, bahkan membuka peluang peningkatan frekuensi tanam dalam satu tahun.

Babinsa: Bukan Sekadar Keamanan, tapi Juga Ketahanan Pangan

Danramil 07/Walenrang, Kapten Inf Illang, menegaskan bahwa keterlibatan Babinsa dalam persoalan pertanian merupakan bagian dari tugas membantu mengatasi kesulitan masyarakat di wilayah binaannya. Kehadiran aparat kewilayahan di tengah petani dinilai krusial untuk memastikan roda perekonomian desa tetap berputar.

"Kami hadir untuk membantu petani. Dengan adanya sumber air ini, diharapkan para petani bisa tanam 3 kali dalam setahun dan tidak gagal panen saat musim kemarau," ungkap Kapten Inf Illang.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendampingan tidak hanya berhenti pada proses penggalian, tetapi juga berlanjut pada upaya memaksimalkan hasil panen untuk menjaga stabilitas pangan di wilayah Kabupaten Luwu.

Harapan Baru di Tengah Kemarau

Bagi Kelompok Tani Berkah, sumur sedalam 15 meter tersebut menjadi aset vital yang menyelamatkan ribuan gulungan padi dari risiko kekeringan. Dengan luas lahan mencapai puluhan hektare, ketersediaan air tanah menjadi penentu utama keberhasilan panen di tengah cuaca ekstrem.

Kegiatan pembuatan sumur yang berlangsung Kamis (3/9/2026) ini merupakan respons cepat atas laporan warga yang mulai kesulitan mendapatkan air. Pendekatan partisipatif antara TNI, penyuluh pertanian, dan petani ini diharapkan mampu meminimalisir kerugian gagal panen yang kerap terjadi saat puncak musim kemarau tiba.

Reporter: Ujang Rahmat
Sumber: tekape.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top