BULUKUMBA — Sebanyak 1.200 hektare lahan persawahan di dua desa, Bontonyeleng dan Palang Barae, menjadi sasaran utama rehabilitasi jaringan irigasi yang dikerjakan Pemprov Sulsel. Pekerjaan itu masuk Paket 1 MYP 2025-2027, program multiyears yang mengalokasikan Rp780 miliar untuk 39 daerah irigasi di sejumlah kabupaten.
Aliran air yang sebelumnya tersendat ke wilayah hilir menjadi keluhan lama petani setempat. Kini saluran yang direhabilitasi mulai menjangkau lahan yang dulu sulit terairi.
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menyebut rehabilitasi dilakukan karena sebagian infrastruktur irigasi eksisting mengalami penurunan fungsi. Kerusakan bendung dan penyumbatan saluran membuat distribusi air tidak optimal hingga ke wilayah hilir dan tersier.
"Para petani bisa lima kali dalam dua tahun, atau tiga kali setahun, atau minimal dua kali setahun untuk bercocok tanam sampai panen," kata Andi Sudirman.
Pemprov memproyeksikan normalisasi jaringan dapat menaikkan indeks pertanaman sekaligus produktivitas. Dengan pasokan air yang lebih baik, masa tanam petani diharapkan bertambah dari dua menjadi tiga kali dalam setahun.
Petani Desa Bontonyeleng, Jamaluddin, mengaku kondisi petani sebelum irigasi direhabilitasi cukup berat. Aliran air tidak mampu menjangkau lahan di wilayah hilir.
"Kondisi kami sebelum ada irigasi ini, keadaan petani memang sangat memprihatinkan karena akses irigasi tidak bisa sampai ke hilir," kata Jamaluddin.
Setelah jaringan diperbaiki, ia berharap lahan bisa digarap lebih optimal. Tambahan musim tanam berpotensi menaikkan pendapatan karena lahan dimanfaatkan lebih produktif sepanjang tahun.
"Dengan adanya irigasi ini, dari potensi garap sawah dua kali mudah-mudahan bisa sampai tiga kali nanti, khususnya tanam padi," ujarnya.
Kepala Desa Bontonyeleng Andi Baso Mauragawali menilai manfaat irigasi tidak berhenti pada lahan yang selama ini sudah digarap. Infrastruktur itu juga berpotensi membuka lahan pertanian baru begitu pekerjaan tuntas.
"Selain bisa mengaliri lahan saat ini, juga bisa mengaliri lahan baru apabila pekerjaan ini sudah selesai," kata Andi Baso.
Dua desa yang terdampak langsung pembangunan tersebut adalah Bontonyeleng dan Palang Barae. Menurut Andi Baso, peningkatan produksi baru akan terasa penuh setelah seluruh jaringan selesai.
"Dampak dari ini ada peningkatan produksi jika ini selesai. Bukan hanya berhenti di sini karena memang luasan persawahan kami ini sangat luas. Ada dua desa yang berdampak, Desa Bontonyeleng dan Palang Barae," ujarnya.
Petani muda Bontonyeleng, Madasari, melihat perbaikan irigasi sebagai salah satu penopang agar generasi muda tetap bertani di desa. Kondisi pertanian yang memprihatinkan membuat banyak anak muda memilih merantau.
"Kondisi pertanian di Bontonyeleng masih cukup memprihatinkan, tetapi dengan adanya bantuan dari Pemerintah Provinsi ini bisa menggerakkan petani muda agar tidak keluar dari desa dan bisa membangun potensi pertanian yang ada di desa," kata Madasari.
Ia berharap ketersediaan air yang lebih baik membuat sektor pertanian semakin menarik secara ekonomi. Petani penerus pun bisa mendapatkan kehidupan yang layak dari lahan yang mereka garap.
"Saya berharap dengan adanya irigasi ini bisa memenuhi kebutuhan petani agar petani penerus mendapatkan kehidupan yang layak," ujarnya.
Secara keseluruhan, program MYP 2025-2027 menyasar sekitar 54.000 hektare sawah di sejumlah kabupaten Sulsel. Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp780 miliar untuk 39 daerah irigasi.
Khusus Bulukumba, alokasi Rp16,5 miliar diarahkan ke tiga daerah irigasi: Bontonyeleng, Bettu, dan Bongki-Bongki. Pekerjaan itu diproyeksikan meningkatkan kapasitas layanan irigasi dan mengoptimalkan pengairan sekitar 1.200 hektare lahan pertanian.
Progres di Bontonyeleng kini menyentuh 1,1 kilometer dari total 2,5 kilometer yang direhabilitasi. Sisa pekerjaan menjadi penentu apakah target tiga kali tanam setahun bisa dipenuhi pada musim berikutnya.