Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar menampung 124 siswa dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, dan setelah satu tahun berjalan perubahan mulai terlihat pada kedisiplinan hingga kepercayaan diri mereka. Perubahan itu tidak hanya soal akademik, tetapi juga keberanian tampil dan kemampuan mengenali potensi diri. Buktinya, 16 siswa yang dikirim ke kejuaraan pencak silat nasional memperebutkan Piala Bupati Bone berhasil membawa pulang 5 medali emas, 2 perak, dan 5 perunggu.
MAKASSAR — Kepala SRMP 23 Makassar, Radiah, menyebut perubahan paling mencolok terjadi pada kedisiplinan, kepercayaan diri, kemandirian, serta kemampuan siswa mengenali potensi diri mereka. Penilaian itu disampaikan setelah sekolah berasrama tersebut berjalan sekitar satu tahun sejak diresmikan serentak oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada 14 Juli 2025.
SRMP 23 Makassar bukan sekolah biasa. Seluruh siswanya merupakan warga Kota Makassar yang berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, tepatnya kelompok Desil 1 dan Desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Mereka mendapat pendidikan formal sekaligus tinggal di asrama.
Seleksi SRMP 23 mengacu pada data DTSEN, sehingga penerima manfaat benar-benar berasal dari rumah tangga paling rentan secara ekonomi. Dari 124 siswa yang kini belajar di sana, sebagian besar sebelumnya tidak punya akses ke pendidikan berasrama dengan pendampingan intensif.
Lingkungan belajar yang terkontrol membuat siswa mendapat ruang lebih besar untuk berkembang. Radiah mengatakan pendampingan yang lebih intensif memberi kesempatan bagi siswa mengenali kemampuan yang mereka miliki.
Kemajuan siswa terlihat dari capaian di luar kelas. Bulan lalu, perwakilan SRMP 23 mengikuti kejuaraan pencak silat nasional memperebutkan Piala Bupati Bone. Dari 16 siswa yang dikirim dalam satu kontingen, mereka meraih 5 medali emas, 2 perak, dan 5 perunggu.
Bakat lain juga mulai muncul. Radiah menyebut siswanya menonjol di bidang seni seperti menyanyi dan membaca puisi, ada pula yang membuat inovasi lampu dengan cahaya matahari. Kemampuan bahasa asing seperti Bahasa Inggris, Mandarin, hingga Jepang juga mulai terlihat.
Salah seorang siswa, Azzahra, mengaku senang belajar di Sekolah Rakyat. Anak dari buruh serabutan itu mendapat banyak teman dari berbagai latar belakang dan belajar kemandirian serta disiplin selama diasramakan.
"Apalagi guru-guru dan pendamping asrama kami itu semuanya ramah dan tidak pernah lelah membantu kami menjadi pribadi yang lebih lagi," kata Azzahra.
Pengalaman serupa dirasakan Ismail, Ketua OSIS SRMP 23. Sebelum masuk Sekolah Rakyat, ia mengaku sangat sulit bangun untuk sholat Subuh. Kebiasaan itu berubah setelah tinggal di asrama.
"Jadi selain kemampuan akademik kita diasah, juga kecerdasan emosional, kemandirian dan jiwa kepemimpinan kita juga dibangun," ujar Ismail.
Data Dinas Sosial Sulawesi Selatan menunjukkan jumlah siswa Sekolah Rakyat di tingkat provinsi pada Agustus 2026 tercatat 414 orang. Rinciannya, 24 siswa Sekolah Rakyat Dasar, 125 siswa SMP, 120 siswa SMA kelas X, dan 145 siswa SMA kelas XI.
Angka itu menandakan program yang dimulai setahun lalu terus menjangkau lebih banyak anak dari keluarga prasejahtera di Sulawesi Selatan. Bagi siswa seperti Azzahra dan Ismail, dampaknya sudah terasa lebih dulu di ruang kelas dan asrama.