Widodo C Putro Ingin Sejarah SEA Games 1991 Menular di Final ASEAN Cup

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38:01 WIB
Widodo Cahyono Putro berharap sejarah emas SEA Games 1991 terulang di final ASEAN Cup.

SULAWESI SELATAN — Widodo Cahyono Putro berharap sejarah emas SEA Games 1991 terulang saat Timnas Indonesia menghadapi Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026, Senin (5/10) di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Legenda Garuda itu menyebut momen adu penalti Manila 1991 sebagai rujukan mental bagi Kevin Diks dan kolega.

Duel puncak Indonesia vs Thailand akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, dengan kickoff pukul 20.00 WIB. Laga ini menjadi pertemuan kedua tim di partai final turnamen regional setelah SEA Games Manila 1991.

Widodo merupakan salah satu striker yang mengantar Indonesia juara SEA Games 1991. Ketika itu, Indonesia dan Thailand bermain imbang 0-0 hingga perpanjangan waktu sebelum Garuda menang 4-3 lewat adu penalti.

Kenangan Adu Penalti Manila 1991 Jadi Modal Mental

Pelatih PSIS Semarang itu menyebut pengalaman final 1991 sebagai pijakan psikologis bagi skuad asuhan John Herdman. Menurutnya, sejarah bisa berulang jika pemain percaya pada proses.

"Saya pelakunya di SEA Games 1991 di Filipina yang waktu itu final mengalahkan Thailand dalam drama adu penalti. Medali emas itu. Mudah-mudahan ini menular gitu ya," kata Widodo di Instagram PSSI.

Widodo menilai Thailand tetap menjadi lawan yang berbahaya meski Indonesia lolos ke final sebagai juara Grup A. Ia menyoroti cara main Thailand yang tidak mengandalkan kecepatan atau kekuatan eksplosif.

Waspadai Ritme dan Final Pass Thailand

Mantan striker terbaik Garuda itu meminta Kevin Diks dan kolega mewaspadai umpan-umpan akurat Thailand di daerah pertahanan. Disiplin transisi menjadi kunci menurutnya.

"Tapi, ya memang kita harus respek juga dengan Thailand. Tiap tahunnya mereka bisa memunculkan bibit-bibit yang bagus ya."

"Cara mainnya Thailand itu memang tidak mengandalkan kecepatan, tidak dengan kekuatan yang eksplosif. Kelebihan Thailand bisa menempatkan dan mengatur ritme, juga tentunya final pass-nya yang cukup akurat. Jadi perlu diwaspadai cara bermain mereka dan tentunya Timnas Indonesia harus disiplin, baik transisi dari menyerang ke bertahan dan sebaliknya," tutur Widodo.

Jalur Berbeda Indonesia dan Thailand ke Final

Indonesia memastikan tiket ke final sebagai juara Grup A. Kemenangan dramatis 9-2 atas Bangladesh di laga penutup membuat Indonesia finis di puncak grup berkat keunggulan produktivitas gol atas Malaysia.

Thailand sudah mengamankan tiket lebih awal berkat dua kemenangan beruntun di fase grup. Namun, tim Gajah Perang secara mengejutkan kalah 1-2 dari Filipina di laga penutup Grup B.

Final di Gelora Bung Karno menjadi ujian terakhir Indonesia untuk mengakhiri puasa gelar regional. Sejarah 1991 di Manila menjadi rujukan yang ingin diulang Widodo dan seluruh pendukung Garuda.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top