SULAWESI SELATAN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,34 persen ke level 6.064,49 pada perdagangan Kamis (8/10/2026) pukul 14.09 WIB. Tekanan datang dari saham berkapitalisasi besar, terutama emiten konglomerasi dan bank pelat merah. Koreksi ini memperpanjang tren negatif IHSG yang sudah turun 8,37 persen dalam sebulan terakhir.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi baru mencapai Rp8,54 triliun hingga sore. Transaksi di pasar negosiasi menyumbang Rp1,02 triliun, sementara volume perdagangan tercatat 44,99 miliar saham.
Dari sisi breadth pasar, 534 saham melemah, 169 saham menguat, dan 260 saham stagnan. Angka ini mengonfirmasi tekanan jual yang merata, bukan hanya terpusat di segelintir emiten.
MNC Sekuritas mencatat pelemahan dipimpin sektor energi, infrastruktur, dan industri. Ketiganya merupakan sektor padat modal yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan nilai tukar.
Penurunan sektor energi dan infrastruktur biasanya berkorelasi dengan aksi ambil untung investor asing. Dua sektor ini sempat menjadi favorit sepanjang awal tahun seiring ekspektasi belanja pemerintah dan harga komoditas.
Dalam sepekan, IHSG melemah tipis 0,10 persen. Namun dalam sebulan terakhir, koreksi menembus 8,37 persen — level yang menempatkan IHSG di zona koreksi teknikal.
Penurunan sebesar itu menggerus kapitalisasi pasar secara signifikan. Investor yang masuk di puncak awal September kini menanggung kerugian kertas cukup dalam, terutama di saham perbankan dan konglomerasi.
Saham konglomerasi dan bank pelat merah memiliki bobot besar di indeks. Setiap penurunan satu persen pada saham-saham ini langsung menarik IHSG turun karena perhitungan indeks menggunakan kapitalisasi pasar.
Tekanan pada bank besar umumnya terkait ekspektasi margin bunga bersih yang menyempit. Sementara emiten konglomerasi tertekan oleh sentimen global dan pelemahan daya beli domestik.
Volume perdagangan 44,99 miliar saham menunjukkan likuiditas masih terjaga. Namun nilai transaksi Rp8,54 triliun tergolong moderat, menandakan investor cenderung menunggu di sisi beli.
Rasio saham melemah versus menguat mencapai 3 banding 1. Rasio ini menjadi indikator tekanan jual yang belum mereda dan perlu diwaspadai untuk sesi berikutnya.
Investor disarankan mencermati level support terdekat dan menghindari average down agresif selama breadth pasar masih negatif. Fokus pada emiten dengan laba stabil dan dividen konsisten bisa menjadi strategi bertahan di tengah koreksi.