MAKASSAR — Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Prof Dr Anwar Daud SKM MKes, menyoroti penurunan kualitas udara Kota Makassar yang terjadi sepanjang minggu ini. Pemantauan BMKG Wilayah IV Makassar bersama sejumlah stasiun lingkungan mencatat lonjakan konsentrasi partikulat halus PM2,5 akibat kiriman asap dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Angka itu menempatkan status udara Makassar pada kategori kurang sehat.
Anwar yang juga Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup Unhas menilai situasi lintas batas ini menuntut kewaspadaan tinggi. Persoalan ekologis di satu wilayah, katanya, langsung berdampak pada beban morbiditas atau angka kesakitan warga di daerah lain yang dilalui angin.
Mengapa PM2,5 Lebih Berbahaya dari Debu Biasa
Ukuran partikel PM2,5 yang sangat kecil memungkinkannya lolos dari saringan bulu hidung dan masuk hingga ke alveoli paru-paru. Sebagian partikel bahkan bisa meresap ke aliran darah. Kondisi ini berbeda dengan debu kasar yang umumnya tertahan di saluran napas bagian atas.
Dalam jangka pendek, peningkatan konsentrasi PM2,5 dapat memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Penderita penyakit kronis seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) berisiko mengalami kekambuhan. Iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan juga kerap menyertai paparan yang berlangsung lama.
Siapa yang Paling Rentan Terdampak
Dampak kesehatan dari kabut asap tidak merata ke semua orang. Anak-anak menghadapi risiko lebih tinggi karena saluran napas mereka masih berkembang dan frekuensi pernapasannya lebih cepat dibanding orang dewasa.
Lansia umumnya sudah mengalami penurunan fungsi cadangan fisiologis, sehingga tubuh lebih sulit melawan infeksi saluran napas. Ibu hamil serta pekerja luar ruang seperti pedagang, kurir, dan pekerja konstruksi juga masuk kelompok yang perlu perlindungan ekstra. Begitu pula individu dengan riwayat penyakit kardiovaskular dan respirasi.
Dari Data ISPU ke Aksi Nyata di Lapangan
Anwar menilai pendekatan reaktif yang menunggu warga jatuh sakit lebih dulu perlu digeser menjadi pencegahan berbasis risiko. Angka parameter PM2,5 atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) harus diterjemahkan ke bahasa komunikasi risiko yang mudah dipahami publik, agar masyarakat sadar tanpa harus panik.
Pembatasan aktivitas luar ruang menjadi langkah taktis berikutnya, terutama bagi kelompok rentan dan institusi pendidikan. Puskesmas serta rumah sakit di Makassar juga diminta siaga mengantisipasi lonjakan kunjungan pasien dengan keluhan gangguan pernapasan.
Panduan bagi Warga yang Tetap Harus Beraktivitas di Luar
Bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah atau gedung selama kualitas udara belum membaik, pemilihan masker menjadi hal pertama yang perlu diperhatikan. Masker kain biasa tidak cukup menahan partikel halus PM2,5.
- Gunakan masker medis (surgical mask) atau masker dengan standar KF94/KN95/N95 yang punya efisiensi filtrasi tinggi terhadap partikel mikro.
- Pastikan masker menutup rapat area hidung dan dagu tanpa celah di bagian samping.
- Kurangi durasi berada di luar ruangan jika tidak ada keperluan mendesak.
- Tunda olahraga luar ruang seperti lari, bersepeda, atau senam. Aktivitas fisik berat meningkatkan laju pernapasan sehingga volume PM2,5 yang terhirup jauh lebih banyak. Alihkan ke olahraga dalam ruangan.
- Perbanyak minum air putih untuk menjaga kelembapan selaput lendir saluran pernapasan.
- Cukupi asupan buah dan sayur sebagai sumber antioksidan untuk menekan stres oksidatif akibat paparan polutan.
Ketika bepergian bersama anak-anak, lansia, atau ibu hamil, pastikan kelompok tersebut memakai pelindung pernapasan yang sesuai. Warga yang mengalami keluhan sesak napas atau batuk berkepanjangan diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Penanganan kabut asap lintas provinsi ini, menurut Anwar, memerlukan kolaborasi dari pemantauan meteorologi, peringatan dini, hingga kesiapan layanan kesehatan. Tanpa koordinasi itu, dampak kesehatan warga di daerah yang dilalui asap berpotensi terus berulang setiap musim kemarau.