Pencarian

Transaksi Ekspor UMKM Bisa Ekspor Tembus US$ 347 Juta per Agustus 2026

Selasa, 06 Oktober 2026 • 14:39:01 WIB
Transaksi Ekspor UMKM Bisa Ekspor Tembus US$ 347 Juta per Agustus 2026
Menteri Perdagangan Budi Santoso membuka acara Kick Off Fasilitas Sertifikasi Barcode Produk Pangan di kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026).

SULAWESI SELATAN — Nilai transaksi ekspor dari program UMKM Bisa Ekspor mencapai US$ 347 juta atau setara Rp 6,21 triliun sepanjang Januari–Agustus 2026. Capaian itu melampaui realisasi sepanjang tahun lalu yang hanya US$ 134,8 juta. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut sebagian besar peserta program merupakan pelaku usaha yang belum pernah menembus pasar ekspor sebelumnya.

Kementerian Perdagangan mencatat lonjakan transaksi program UMKM Bisa Ekspor sepanjang delapan bulan pertama 2026. Angka US$ 347 juta itu dihitung dengan kurs Rp 17.900 per dolar AS. Realisasi tersebut sudah lebih dari dua kali lipat capaian sepanjang 2025.

Budi menyampaikan data tersebut saat membuka acara Kick Off Fasilitas Sertifikasi Barcode Produk Pangan di kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026). Program UMKM Bisa Ekspor mempertemukan pelaku usaha kecil dengan calon pembeli dari luar negeri melalui jaringan perwakilan dagang Indonesia.

Jaringan 46 Perwakilan Dagang di 33 Negara

Untuk menjalankan program ini, Kemendag mengandalkan atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang tersebar di 33 negara. Total ada 46 perwakilan yang bertugas menjembatani UMKM dengan buyer asing.

Menurut Budi, mayoritas UMKM yang ikut program ini belum pernah melakukan ekspor sama sekali. Pemerintah ingin agar aktivitas ekspor tidak hanya dikuasai korporasi besar.

"Tahun lalu transaksinya mencapai US$ 134,8 juta. Tahun ini sampai Januari sampai Agustus transaksinya sudah US$ 347 juta," ujar Budi.

Dorong UMKM Masuk Ritel Modern Lewat Sertifikasi Barcode

Selain jalur ekspor, Kemendag mendorong UMKM menembus ritel modern dalam negeri. Salah satu caranya lewat fasilitas sertifikasi barcode yang digarap bersama GS1 Indonesia, menyasar produk pangan kemasan dan perawatan kecantikan.

Tahap awal fasilitas ini menyertakan 50 UMKM yang telah melewati proses kurasi. Barcode dinilai mempermudah layanan, penyimpanan, hingga distribusi produk ke gerai ritel.

Budi menekankan produk yang masuk ritel modern harus punya daya saing. Standar konsumen dan standar ritel menjadi syarat utama sebelum produk lokal bisa dipajang di rak.

"Kita sudah punya kerja sama dengan Aprindo dengan Hippindo kalau kita lihat sekarang banyak produk-produk lokal kita ini yang sudah ada di ritel modern," jelas Budi.

"Konsumen punya standar yang kemudian direpresentasikan ke dalam ritel. Ritel juga punya standar. Karena kalau ritel enggak punya standar ya konsumen juga enggak mau pasti beli barang yang lebih bagus," beber ia.

TEI 2026 Targetkan Transaksi US$ 17,5 Miliar

Kemendag juga menyiapkan Trade Expo Indonesia (TEI) yang akan berlangsung 14–18 Oktober di ICE BSD. Sebanyak 5.400 buyer asing telah mengonfirmasi kehadiran, meski Budi optimistis jumlahnya masih bisa bertambah.

Sebagai pembanding, TEI 2025 dihadiri 8.045 buyer dengan nilai transaksi US$ 22,8 miliar. Untuk tahun ini, Budi memasang target transaksi US$ 17,5 miliar.

Bagi pelaku UMKM, dua jalur ini—ekspor lewat jaringan perwakilan dagang dan penetrasi ritel modern lewat sertifikasi barcode—menjadi pintu masuk yang lebih terstruktur. Tantangannya tetap sama: konsistensi kualitas produk dan kesiapan memenuhi standar buyer maupun peritel.

Follow www.sulsel24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks