SIDRAP — Lipa Garussu resmi menjadi ikon baru kerajinan tenun Kabupaten Sidrap setelah untuk pertama kalinya dipamerkan di ajang HUT Dekranas ke-46 di Makassar, pekan lalu. Kain tenun khas ini dibanderol dengan harga Rp3 juta hingga Rp5 juta per lembar, jauh di atas produk tenun Sidrap lainnya.
Anggota Dekranasda Kabupaten Sidrap, Ririn, mengatakan produk ini sengaja diangkat untuk memperkenalkan kekayaan budaya tenun daerah yang selama ini belum banyak dikenal masyarakat luas. “Produk yang paling kami usung pada pameran kali ini adalah Lipa Garussu. Ini baru pertama kali kami perkenalkan kepada masyarakat melalui pameran Dekranas,” kata Ririn di booth pameran, Jumat (10/7).
Bedanya Lipa Garussu dengan Lipa Sabbe Khas Sidrap
Lipa Garussu memiliki karakter yang berbeda dengan Lipa Sabbe atau sarung sutra yang selama ini identik dengan Sidrap. Perbedaan utama terletak pada tahapan akhir produksi, yaitu adanya proses menggosok kain setelah selesai ditenun, yang menghasilkan tekstur dan tampilan khas.
“Lipa Garussu pada dasarnya merupakan kain tenun, tetapi setelah selesai masih melalui proses menggosok. Proses itulah yang membedakannya dengan Lipa Sabbe,” ujar Ririn.
Nilai Budaya yang Melekat pada Masyarakat Hindu Towani
Selain soal proses produksi, Lipa Garussu juga memiliki nilai budaya yang erat dengan masyarakat Hindu Towani di Kabupaten Sidrap. Sarung ini lazim dikenakan dalam berbagai kegiatan adat, upacara keagamaan, hingga prosesi pernikahan.
“Pada umumnya masyarakat Towani menggunakan sarung ini, terutama dalam acara keagamaan maupun acara pengantin. Jadi, Lipa Garussu memiliki nilai budaya yang kuat,” jelas Ririn.
Belum Diproduksi Massal, Sistem Pre-Order Satu Bulan
Meski menjadi produk unggulan, Lipa Garussu saat ini belum diproduksi secara massal. Dekranasda Sidrap masih menerapkan sistem pemesanan atau pre-order karena waktu pengerjaan satu lembar sarung mencapai sekitar satu bulan.
“Saat ini Lipa Garussu masih menggunakan sistem pre-order. Proses pembuatannya membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk satu sarung karena ada tahapan tambahan setelah proses menenun,” tuturnya.
Harga yang bervariasi tergantung pada motif, jenis benang, hingga penggunaan benang emas. “Harga Lipa Garussu tergantung motif dan benang yang digunakan. Kalau menggunakan benang emas tentu lebih mahal. Produk yang kami tampilkan di pameran ini berada pada kisaran Rp3 juta sampai Rp5 juta,” ujar Ririn.
Produk Lain yang Juga Diburu Pengunjung
Selain Lipa Garussu, Dekranasda Sidrap juga memamerkan Lipa Sabbe berbahan sutra yang dijual Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per lembar, serta produk campuran benang non-sutra mulai Rp500 ribu hingga Rp900 ribu. Selama pameran, Lipa Sabbe tercatat sudah menunjukkan hasil penjualan positif.
Produk nontekstil turut memeriahkan stand Sidrap, seperti cobek batu alam, pisau dapur, hingga kerajinan logam berupa badik dan parang dengan sarung berornamen khas. “Produk-produk seperti parang, badik, dan keris juga banyak diminati, terutama oleh pengunjung laki-laki. Sedangkan untuk ibu-ibu biasanya lebih tertarik pada pisau dapur, cobek batu, serta produk kerajinan rumah tangga,” kata Ririn.