Pencarian

Cara Menghitung Berat Badan Ideal Pakai Rumus BMI

Minggu, 02 Agustus 2026 • 18:20:00 WIB
Cara Menghitung Berat Badan Ideal Pakai Rumus BMI

Jakarta - Menjaga berat badan agar tetap berada di angka ideal merupakan salah satu pilar utama dalam menerapkan gaya hidup sehat. Untuk mengukur kesesuaian antara berat badan dan tinggi badan, metode yang paling umum digunakan adalah Body Mass Index (BMI).

Metode ini populer karena sederhana dan praktis untuk mendeteksi status berat badan awal seseorang. Berbagai lembaga kesehatan dunia juga memanfaatkan indeks ini sebagai alat skrining awal untuk mengelompokkan kondisi tubuh manusia.

Berat badan yang ideal tidak hanya ditentukan oleh angka yang tertera di timbangan. Proporsi tubuh yang sebenarnya sangat dipengaruhi oleh tinggi badan seseorang, sehingga perhitungan BMI menjadi acuan yang fungsional. Perhitungan ini dapat dilakukan secara mandiri di rumah — hanya membutuhkan data tinggi badan dan berat badan yang akurat.

Body Mass Index diperoleh dengan membandingkan berat badan dalam satuan kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter (BMI = Berat Badan (kg) ÷ Tinggi Badan (m)²).

Sebagai contoh, jika seseorang memiliki berat badan 60 kilogram dengan tinggi badan 165 sentimeter atau setara 1,65 meter, maka langkah perhitungannya adalah mengalikan tinggi badan terlebih dahulu (1,65 x 1,65 = 2,7225), lalu membagi berat badan dengan hasil kuadrat tersebut (60 : 2,7225 = 22,03). Angka tersebut menunjukkan berat badan yang masuk kategori normal atau proporsional.

Secara umum, hasil pengukuran BMI dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berikut:

  • Kurang dari 18,5: berat badan kurang
  • 18,5 - 24,9: berat badan normal/ideal
  • 25 - 29,9: berat badan berlebih
  • 30 atau lebih: obesitas

Memantau nilai BMI secara berkala memberikan berbagai dampak positif bagi pengelolaan kesehatan jangka panjang. Metode ini membantu seseorang mengidentifikasi risiko penyakit degeneratif yang berkaitan erat dengan kelebihan berat badan, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan hipertensi. Sebaliknya, angka BMI yang terlalu rendah juga berisiko memicu malnutrisi, penurunan imunitas, hingga pengeroposan massa otot tubuh.

Perlu diingat, BMI bukanlah instrumen tunggal penentu tingkat kesehatan seseorang karena tidak mengukur komposisi jaringan tubuh secara mendetail. Seorang atlet profesional misalnya, sering memiliki nilai BMI tinggi karena massa otot yang padat, namun kondisi itu tidak bisa dikategorikan sebagai obesitas yang membahayakan kesehatan. Keterbatasan serupa juga berlaku pada lansia yang kehilangan massa otot namun memiliki penumpukan lemak tersembunyi, serta wanita hamil yang mengalami lonjakan berat badan alami.

Untuk mendapatkan gambaran kesehatan tubuh yang lebih menyeluruh, sebaiknya perhitungan BMI dikombinasikan dengan pemeriksaan kesehatan lain seperti lingkar pinggang, persentase lemak tubuh, serta pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah secara berkala, terutama bagi kelompok usia dewasa yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit tidak menular. Konsultasi dengan tenaga medis tetap disarankan bagi siapa pun yang hasil BMI-nya berada jauh di luar rentang normal.

Follow www.sulsel24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks