Pencarian

Buku Fern Walk II Ulas Pakis Gunung Slamet, Dibanderol Rp375.000

Minggu, 20 September 2026 • 14:40:31 WIB
Buku Fern Walk II Ulas Pakis Gunung Slamet, Dibanderol Rp375.000

SULAWESI SELATAN — Buku Fern Walk II Mt. Slamet Foothills resmi diluncurkan di Main Stage FLOII Hall 3A ICE BSD, Tangerang, sebagai dokumentasi botani pakis dari lereng Gunung Slamet hingga Puncak Palano. Karya kolaborasi empat kreator ini dipasarkan Rp375.000 per eksemplar dan menyajikan habitat tumbuhan paku yang lebih variatif ketimbang seri pertamanya. Peluncuran berlangsung di ajang FLOII Expo 2026 yang mempertemukan para kolaborator di balik penerbitannya.

Friesia Sutijati Widjaja, Rama Andhika Utama, Sandy Jacop, dan Wina Miranti Putri memperkenalkan karya literatur botani terbaru mereka kepada publik pecinta tanaman di Main Stage FLOII Hall 3A ICE BSD Tangerang. Peluncuran itu menjadi ajang temu seluruh kolaborator penting di balik terbitnya buku Fern Walk II Mt. Slamet Foothills.

Empat nama itu punya peran berbeda dalam tim. Friesia bertindak sebagai produser, Rama memegang kamera sebagai fotografer, Sandy mengatur tim di lapangan sebagai manajer lapangan, sementara Wina berperan ganda sebagai penulis sekaligus fotografer.

Mereka merangkum keanekaragaman flora paku-pakuan dari lereng Gunung Slamet hingga Puncak Palano. Buku ini dipasarkan seharga Rp375.000 per eksemplar.

Cakupan Habitat Lebih Variatif dari Seri Pertama

Jilid kedua Fern Walk menyajikan cakupan habitat tumbuhan paku yang jauh lebih beragam dibanding seri sebelumnya. Tim menjelajahi kebun raya, kawasan hutan alami, lereng air terjun, sampai jalur pegunungan terpencil.

Rama Andhika Utama berharap dokumentasi komprehensif ini bisa mengangkat martabat karya anak bangsa ke panggung internasional. "Dengan bangga saya katakan bahwa buku ini dari Indonesia dan dibuat oleh tim kita. Itu lebih ke tujuan personal saya," kata Rama.

Medan Ekstrem dan Pentingnya Komunikasi Tim

Sandy Jacop menyoroti pentingnya komunikasi terbuka antaranggota regu saat menelusuri rute pendakian berbahaya. Menurutnya, keterbukaan fisik dan mental jadi penentu utama keselamatan seluruh tim di medan rimba.

"Semua harus saling memberitahu kelemahan masing-masing. Itu paling penting. Misalnya, 'Aku ada ketakutan dengan ini,' atau 'Aku ada cedera di sini.' Hal itu sangat penting agar kita bisa selamat," ujar Sandy Jacop.

Temuan Botani: Belum Ada Hibrid Alami, Tapi Ada Mutasi Stabil

Wina Miranti Putri membagikan pengalaman observasi lapangannya. Tim peneliti belum menjumpai fenomena persilangan generatif alami secara langsung pada pakis liar lereng gunung.

"Jujur, kalau hibrid alami saya belum pernah ketemu. Jadi, selama saya mengumpulkan materi untuk buku ini, saya belum menemukan hibrid," ujar Wina.

Meski begitu, Wina berhasil mengidentifikasi mutasi genetik stabil yang mirip sifat variegata pada satu spesies tertentu. Lewat buku ini, ia ingin membangun apresiasi publik terhadap flora lokal secara tulus.

"Saya berharap dengan membaca buku ini, kita bisa mencintai spesies Indonesia dengan lebih rendah hati dan murni, karena itulah cita-cita saya. Apa pun yang kita lihat, baik langka maupun tidak, akan saya bahas dengan penuh kasih di buku ini," tutur Wina Miranti Putri.

Data Harus Akurat, Bukan Sekadar Mengejar Laba

Produser Friesia Sutijati Widjaja menegaskan tim menyusun karya ini demi memajukan edukasi lingkungan, bukan semata mengejar laba komersial. Tantangan terbesarnya adalah menulis dalam bahasa Inggris dengan detail skor dan informasi yang lengkap.

"Menulis buku Perwork dalam bahasa Inggris dengan segala detailnya—seperti apa skor dan informasinya—sangat menantang. Meskipun tidak bersifat ilmiah, buku ini tidak boleh salah datanya demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Friesia Sutijati Widjaja.

Tim berharap publik semakin peka terhadap kelestarian alam dan memahami kebutuhan ekosistem hutan nusantara. Penerbitan buku ini menunjukkan dedikasi independen mampu menghasilkan dokumentasi ilmiah populer berstandar tinggi, sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam melestarikan warisan alam Indonesia untuk generasi mendatang.

Follow www.sulsel24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: stapo.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks