Pencarian

Google Resmi Ubah Sistem Penamaan Grup Peretas, Ganti Kode Angka dengan Nama Orang

Senin, 10 Agustus 2026 • 01:54:31 WIB
Google Resmi Ubah Sistem Penamaan Grup Peretas, Ganti Kode Angka dengan Nama Orang
Google resmi menghentikan sistem penamaan grup peretas dengan kode angka dan menggantinya dengan nama orang.

SULAWESI SELATAN — Selama lebih dari satu dekade, industri keamanan siber global menggunakan kode alfanumerik untuk mengidentifikasi kelompok peretas negara. Sistem yang dipopulerkan Mandiant itu kini resmi pensiun. Google, yang telah mengakuisisi Mandiant, memperkenalkan skema penamaan baru yang jauh lebih sederhana dan mudah dicerna, baik bagi analis keamanan maupun publik umum.

Shane Huntley, Chief Technology Officer Google Threat Intelligence Group, menyatakan perubahan ini lahir dari kebutuhan mendesak akan kejelasan. "Kami tidak menyangka akan memiliki grup ancaman sebanyak sekarang," ujarnya kepada TechCrunch. Google saat ini memantau lebih dari 5.000 "klaster aktivitas" peretasan di berbagai negara, dan hampir semua negara maju memiliki kemampuan perang sibernya sendiri.

Skema Baru: Nama Depan Acak, Akhiran Penanda Negara

Sistem baru Google tidak lagi memakai angka. Setiap grup peretas akan diberi nama depan yang acak dan mudah diingat, lalu diikuti kata kedua yang huruf awalnya menunjukkan negara asal. Misalnya, akhiran Castle untuk kelompok asal China, Ion untuk Iran, Neptune untuk Korea Utara, dan Relic untuk Rusia.

Langkah ini menyatukan dua basis data besar yang sebelumnya terpisah: sistem internal Threat Analysis Group (TAG) peninggalan Google dan sistem penamaan Mandiant. Dengan penyatuan ini, para peneliti tidak perlu lagi menghafal dua skema berbeda untuk merujuk aktor yang sama.

Mengapa Nama Penting untuk Keamanan Siber?

Huntley menegaskan penamaan ini bukan sekadar pelabelan akademis. Identitas yang konsisten memungkinkan organisasi mengenali pola serangan lebih cepat, mempersiapkan pertahanan, dan menyelidiki insiden dengan lebih efisien. "Jika Anda benar-benar diretas, mengetahui bagaimana aktor itu berperilaku, apa yang mereka lakukan di masa lalu, semua detail ini menjadi sangat penting untuk respons dan cakupan pertahanan," jelas Huntley.

Contoh nyata adalah Lazarus Group, peretas Korea Utara. Dengan mengetahui target, tujuan, dan metode mereka, tim keamanan punya titik awal yang jelas untuk menangkal atau merespons serangan.

Peretas Negara Lebih Mudah Dilacak daripada Kriminal Siber

Menariknya, Huntley mengungkapkan bahwa melacak peretas yang disponsori negara justru lebih mudah dibandingkan kelompok kriminal murni. Peretas negara cenderung punya target dan aktivitas yang konsisten. Sebaliknya, geng kriminal siber memiliki anggota yang keluar-masuk, sering terpecah, dan strukturnya amorf. Sementara itu, kelompok hackers-for-hire dan pembuat spyware punya banyak pelanggan di berbagai belahan dunia, membuat penelusuran mereka jauh lebih rumit.

Mengapa Industri Tidak Memakai Satu Nama yang Sama?

Pertanyaan klasik yang selalu muncul adalah: mengapa semua perusahaan tidak sepakat memakai satu nama untuk satu grup? Jawabannya, menurut Huntley, tidak sesederhana itu. Setiap perusahaan memiliki visibilitas data dan telemetri yang berbeda terhadap satu grup yang sama. "Tidak ada yang punya visibilitas sempurna. Kami membangun model berdasarkan pemahaman terbaik, tapi kami tidak akan pernah tahu segalanya," pungkasnya.

Dengan perubahan ini, setidaknya satu skema penamaan lagi yang harus diingat para analis keamanan hilang. Bagi industri yang terus dibanjiri laporan ancaman baru, penyederhanaan ini adalah langkah kecil yang berdampak besar pada kecepatan respons kolektif.

Follow www.sulsel24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks